gado-doga-dago

hidup gado2, murah enak lagi..

Perjalanan Menemukan Tutup Busi

Even the smallest thing, can be a blessing in disguise

Ah! siapa yang ngga kesel kalo rencana yang sudah disusun, tiba2 jadi berantakan. Apalagi kalo penyebabnya hal yang sepele, karena hujan misalnya.. rencana jalan2 ke Serpong, melihat2 rumah jadi gagal.

Maklum, sampai skrg kendaraan roda 2, Honda Grand 95 ku .. masih jadi satu2nya pilihan untuk bepergian. Jadi kalo naik motor gini, istilahnya kalo hujan kehujanan .. panas kepanasan.

Harusnya melihat hujan rintik2 berduaan gitu romantis yah .. tapi istri jadi cemberut. Pasalnya dia emang udah wanti2, melihat mendung yang mulai bergelayut di atas sana. Aku pikir tadinya masih sempet barang 1 jam-an untuk jalan sebelum hujan. Eh, lha kok hujan dengan ‘genit-nya’ turun .. pas lagi tengah perjalanan pulak. Jadilah kita menepi untuk berteduh di pinggir jalan, menunggu hujan reda.

Read more »

May 4, 2009 Posted by taufan | Motivation, My Life | , , , | No Comments Yet

Aku Tak Cinta

Taken from milis PengembanganKepribadian:

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Pukul 18.30. Tinnn……. …. Tiiiinnnnn.. ……… … !! Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.

Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.

Read more »

November 28, 2008 Posted by taufan | Motivation | , , | 2 Comments

Veronika Memutuskan Mati

“Ada banyak cara untuk mati bunuh diri: melompat dari gedung tinggi, menembak diri sendiri, gantung diri, menyayat pergelangan tangan dan lain sebagainya. Namun Veronika memilih untuk menenggak empat butir obat tidur, yang menurutnya merupakan cara mati yg feminin.”

Buku karangan Paulo Coelho ini bercerita tentang seorang gadis berumur 24 tahun – Veronika, yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya.

Bukan karena sedih ditinggal pacar atau orang yg dicintai. Bukan pula karena putus asa. Keinginan bunuh dirinya lebih karena, dia merasa apa yg telah dijumpainya selama ini sudah cukup baginya dan ia tidak ingin menyaksikan hal yang sama untuk waktu 30, 40 atau 50 tahun lagi. Sebab semua akan kehilangan keasliannya dan berubah menjadi tragedi kehidupan, dimana segala sesuatu berulang dan ada hari yang sama persis.

Namun upaya bunuh dirinya gagal; bukannya ia meninggal – seseorang (yang tidak diketahui) telah menyelematkannya dan membawanya ke rumah sakit jiwa Villete.

Read more »

September 28, 2008 Posted by taufan | Motivation | , , , | 7 Comments

Kick Andy keluar dari Metro TV?

Berita ini mungkin agak terlambat saya dengar. Terus terang saya adalah salah satu penggemar Kick Andy. Bagi saya, acara tersebut merupakan sumber inspirasi, sumber penggerak dan pemberi nafas dalam hidup. Selalu ada hal2 yang bisa menunjukkan, betapa pentingnya untuk bersyukur, betapa sempitnya pikiran saya untuk menghakimi diri sendiri dengan segala kondisinya: baik ataupun buruk.

Dan seperti yang dikatakan Andy, dunia ini memang tidak sesempit apa yg dibayangkan. Karirnya di Metro TV yang begitu ‘mantap’, tidak cukup menahan hasrat dalam hatinya. Keinginan untuk terus mengembangkan diri, dan meninggalkan ‘zona nyaman’.

Terlepas dari fakta sebenarnya, dibalik keluarnya Andy, saya lebih tertarik dengan pemikiran kita tentang zona nyaman (comfort-zone).

Read more »

September 15, 2008 Posted by taufan | Motivation | , , , , | 10 Comments

Oase di tengah gurun

Jakarta, ibukota negara Indonesia. Kerasnya kehidupan di kota Jakarta, seakan tidak mengenal belas kasihan kepada warganya. Sampai2 muncul ungkapan: Kejamnya ibu tiri tidaklah sekejam ibu kota Jakarta.

Di kota ini semua orang berlomba2 untuk menjadi yang terbaik. Semua orang berusaha untuk mengadu nasibnya dan mencari penghidupan.

Sebagaimana kota lain, kerasnya kehidupan di Jakarta juga memberikan efek negatif tersendiri. Orang cenderung menjadi individualis, hanya memikirkan dan mementingkan diri sendiri. Hidup di Jakarta, serasa hidup di tengah gurun pasir. Panas terik dan kekeringan melanda — kekeringan batin terutama, membuat orang senantiasa merindukan hangatnya kasih sayang dari sahabat ataupun keluarga.

Read more »

August 29, 2008 Posted by taufan | Motivation | , | 1 Comment

Confessions of an Economic Hitman

Udah baca buku ini belum? Ceritanya tentang teori konspirasi perusahaan2 swasta di Amerika Serikat, untuk mewujudkan dominasi global di negara2 lain.

Tadinya aku sempat ragu: beli atau tidak?

Kenapa kok pengen beli? Sebagai perwujudan salah satu hobby-ku yaitu membaca — aku butuh bacaan2 baru yang segar. Bacaan yang bisa bikin aku betah, yang bisa menarikku sejenak dari rutinitas yg membosankan :)

Kenapa kok ngga pengen beli? Yah, sebenarnya aku sudah lama membaca sinopsis buku ini dan — seperti yang sudah aku prediksikan dari awal — akan menimbulkan rasa frustasi tersendiri. Gimana ngga frustasi, kalo apa2 yang ditulis disitu bahwa Indonesia, sebagaimana negara2 berkembang lainnya dijadikan ’sapi perahan’, dengan kedok bantuan internasional. Gimana ngga marah, ketika kenyataan bahwa kekayaan alam negeri ini, lebih banyak porsinya dinikmati oleh negara lain ketimbang rakyat Indonesia.

“Lha, sampeyan iki piyee thoo. Ngapain dibeli, kalo ujung2nya bikin sampeyan stress?”, tanya istriku. Yah, beliau sudah menangkap fenomena aneh dalam diriku, kecenderungan untuk self-destruction dan self-sabotage.. halah3x.

Jadi saranku buat temen2, jangan beli/baca buku ini deh kalo ngga siap mental :)

Bacalah, kalau anda termasuk orang yang peduli akan nasib bangsa kita. Minimal merasa prihatin, sampai kapan bangsa ini mampu berdikari, menjadi bangsa yang kuat dan mampu menentukan nasibnya sendiri.

August 7, 2008 Posted by taufan | Motivation | , , | No Comments Yet

Rich Dad, Poor Dad

Ada apa dengan Robert T. Kiyosaki? Kenapa dia bisa begitu fenomenal dengan teori2 yg ditulis dalam bukunya Rich Dad, Poor Dad?

Bisa saya katakan, bahwa teori Robert telah membuka mata saya. Mata orang lain mungkin juga, yang telah membaca buku ini. Seakan saya baru tersadar bahwa sebenarnya ada pilihan hidup, selain apa yang telah dijalani dan dipercaya oleh sebagian besar dari kita.

Bagi yang mungkin belum membaca bukunya; inti dari teori Robert adalah: kalau mau kaya, jangan hanya mengandalkan pemasukan aktif — carilah pemasukan pasif sebanyak2nya.

Read more »

July 28, 2008 Posted by taufan | Motivation | , , | 3 Comments

Cahaya dalam Kegelapan

Cahaya itu bernama: Li Feng. Li Feng, seorang penyandang tuna netra sejak kecil. Namun kekurangannya tidak mampu menahan keinginannya untuk membuat dunia lebih terang dengan cahayanya.

Cahaya itu, Li Feng, adalah keceriaanmu. Seakan gelapnya dunia, tidak mampu membutakan hatimu.

Bakatmu dalam bermain piano, hanyalah satu di antara lilin2mu. Bahkan, aku merasa silau Li Feng, saat kau berkata : “Aku ingin menolong orang, dan akupunktur adalah jalan yang ingin kutempuh untuk membantu kesembuhan mereka”

Subhannallah, jangan kau meyerah, Li Feng.. karena aku juga tak ingin menyerah dengan cita2ku.

*Inspired by DaAi TV program: “Children of the World”

*Another enlightening story: Rama Himura – a blind with amazing life

June 24, 2008 Posted by taufan | Motivation | , , | No Comments Yet

Jangan Pernah Membenciku

Banyak hal yang terjadi dalam hidupmu — bagi sebagian orang adalah impian2 mereka. So, don’t hate yourself. Jangan membenci kehidupanmu!

Karena bagi orang lain, hidupmu bagaikan lampu mercusuar, yang menjadi arah tujuan bagi para pelaut di tengah gelapnya lautan.

Tuhan, sudah memberikanmu: apa yang pantas bagi dirimu, sesuai kapasitasmu.

Jalanilah hidup dengan penuh syukur, karena hidup ini indah.

“Janganlah kau membenciku, hanya karena kau belum dapat meresapi manisnya sariku.. “

June 24, 2008 Posted by taufan | Motivation | , , | No Comments Yet

Jika mau, pasti bisa (Game 4 NBA 2008 Finals)

Luar biasa! Itulah komentar yang saya berikan untuk pertandingan di Game 4 NBA 2008 Finals. Bagaimana perjuangan Boston Celtics, untuk tidak menyerah patut diacungi 5 jempol (2 jempol tangan, 2 jempol kaki, 1 lagi ..jempol apa :) )

Sempat tertinggal 20 poin lebih: skor 21 – 42 yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri, di pertengahan kuarter 2; masih bisa terkejar bahkan berbalik dengan kemenangan Boston Celtics atas LA Lakers.

Kalo saya yang main, jadi salah satu anggota Celtics pasti udah ‘mutung’.. males dah baru maen kok uda ditinggal dobel score gitu.

Read more »

June 16, 2008 Posted by taufan | Motivation | , | 3 Comments

I Would Never Give Up

One day I decided to quit…

I quit my job, my relationship, my spirituality… I wanted to quit my life.

I went to the woods to have one last talk with God. “God”, I said. “Can you give me one good reason not to quit?”

His answer surprised me…

“Look around”, He said. “Do you see the fern and the bamboo?”

“Yes”, I replied.

“When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good care of them. I gave them light. I gave them water. The fern quickly grew from the earth. Its brilliant green covered the floor. Yet nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful. And again, nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo”, he said.

“In year three there was still nothing from the bamboo seed. But I would not quit. In year four, again, there was nothing from the bamboo see, I would not quit.” He said.

“Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the earth. Compared to the fern it was seemingly small and insignificant. ..But just 6 months later the bamboo rose to over 100 feet tall. It had spent the five years growing roots. Those roots made it strong and gave it what it needed to survive. I would not give any of my creations a challenge it could not handle.”

He said to me. “Did you know, my child, that all this time you have been struggling, you have actually been growing roots”

“I would not quit on the bamboo. I will never quit on you.”

“Don’t compare yourself to others.” He said. “The bamboo had a different Purpose than the fern. Yet they both make the forest beautiful.”

“Your time will come”, God said to me. “You will rise high”

“How high should I rise” I asked.

“How high will the bamboo rise” He asked in return.

“As high as it can” I questioned.

“Yes.” He said, “Give me glory by rising as high as you can.”

I left the forest and bring back this story. I hope these words can help you see that God will never give up on you.

Never give up.

November 16, 2006 Posted by taufan | Motivation | | 2 Comments

Ombak Kehidupan

“Bukanlah lautan yang tenang, melainkan samudra luas dengan ombak yang ganas, yang membuat seseorang menjadi pelaut tangguh”

Pernah dengar ungkapan di atas, ngga? Saya mendapatkannya dari salah satu email yang dikirim ke milis yang saya ikuti. Entah dari siapa email tsb, mungkin orang yang mem-postingnya juga mendapat dari orang lain, kemudian di-forward. Seakan sebuah email itu punya life-cycle, dimana ia akan berputar2 dari satu milis ke milis lain, sampai tiba masanya ia dilupakan dan di-delete, masuk ke trash-box ato delete forever.

Ngga penting deh itu semua. Saya cuman berusaha mengingat2 perjalanan hidup yang demikian beratnya, terlempar oleh ombak satu masuk dalam genggaman ombak lain. Demikianlah hidup. Kalau kita mencoba melawan, sedikit bahkan kecil kemungkinan untuk selamat dari terjangan ombak. Namun kalau kita bisa ikut menghanyutkan diri memanfaatkan dorongan ombak menuju tujuan, hidup ini akan jadi lebih mudah untuk dimengerti.

Sering saya berpikir mengapa jika ada suatu keinginan, bisa jadi keinginan tersebut tidak tercapai. Apakah saya kurang keras berusaha? Kalo harus pontang panting dari satu kota ke kota lain untuk mengejar kesempatan, ditambah dengan cobaan yang diterima sepanjang perjalanan seperti sakit, masih dikatakan kurang.. tidak tahu harus bagaimana lagi.

I have done my best, but maybe that is not good enough.. mungkin juga sih. Mungkin selama ini saya menjalani itu semua dengan rasa berat ato kurang ikhlas. Mungkin beratnya ujian yang saya terima merupakan tempaan jiwa untuk bisa lebih bersabar.. sekaligus persiapan untuk ujian berikutnya yang lebih berat lagi.

Seperti ganasnya ombak yang menerpa kapal, tidak semata membuat kapal tenggelam, tapi sekaligus menguji kemampuan dan kekuatan kapal tersebut menghadapi ombak yang lebih ganas lagi. Ato juga merupakan ujian bagi sang nakhoda untuk pandai2 mengendalikan kapalnya ditengah2 terjangan ombak dan badai.

Semua itu ada h i k m a h n y a ….

Saya sadar, tidak ada gunanya bersedih menerima kegagalan. Satu2nya kegagalan yang mutlak adalah.. jika saya berhenti berharap, jika saya berhenti mengejar impian dan cita2.. itulah kegagalan yang sebenarnya.

Saya percaya bahwa nasib kehidupan tidak akan berubah, kecuali saya sendiri yang berusaha untuk merubahnya. Kini saatnya untuk bangun, mengevaluasi langkah yang telah saya ambil dan menyelaraskan dengan cita2.

Kini saatnya untuk bangkit, kembali naik keatas kapal.. saatnya menghadapi ombak kehidupan.

October 17, 2006 Posted by taufan | Motivation | , | No Comments Yet

The Butterfly Effect

Entah darimana tiba2 di kepala terngiang kata2: The Butterfly Effect. Hari ini saya luangkan waktu untuk browsing artikel di internet. Hasilnya cukup luar biasa. Teori ini dikemukakan pertama kali oleh meteorologis bernama Edward Lorenz (1963)

“Does the flap of butterfly’s wing in Brazil, set off the Tornado in Texas?”. Apakah (bisa) kepakan sayap kupu2 di Brazil, menimbulkan tornado di Texas?

How could this be possible? Cerita dikit2 ah.. tentang sains, gapapa kan? Biar kita semua ngerti landasan ilmiah dari teori yang cukup menarik ini.

Suatu hari di tahun 1960, Pak Lorenz ngerjain tugasnya, membuat ramalan cuaca. Dalam pekerjaannya itu beliau menggunakan komputer, berisi program yang memiliki 12 persamaan untuk membentuk model matematis prakiraan cuaca. Kemudian tahun 1961, dia menggunakan komputernya untuk keperluan yang sama. Karena untuk menjalankan program ini butuh waktu lama, dan Pak Lorenz ga mau capek2 nunggu, dia mengerjakan proses itu dari tengah2. Data2nya diambil dari kerjaanya yang lama, yang waktu itu menunjukkan angka 0.506. Nah, ini dia kesalahan yang tidak disengaja dibuat oleh beliau. Angka 0.506 itu adalah yang tercetak di kertas, dimana untuk tujuan penghematan kertas, dibatasi sampai 3 digit di belakang koma. Angka sebenarnya adalah 0.506127.. ngga jauh beda kan.

Tapi hasilnya ternyata.. beda jauhhh!!

Hal inilah yang melatarbelakangi teori butterfly effect, dimana perbedaan yang demikian kecilnya laksana kepakan sayap kupu2, ternyata dapat menyebabkan efek tornado yang dahsyat.

“The flapping of a single butterfly’s wing today produces a tiny change in the state of the atmosphere. Over a period of time, what the atmosphere actually does diverges from what it would have done. So, in a month’s time, a tornado that would have devastated the Indonesian coast doesn’t happen. Or maybe one that wasn’t going to happen, does.” (Ian Stewart, Does God Play Dice? The Mathematics of Chaos, pg. 141)

Lebih menarik lagi kalo masalah ini dikaitkan dengan waktu. Terciptalah film2 Holywood, seperti The Butterfly Effect yang dibintangi Ashton Kutcher, yang menceritakan seseorang yang mampu mengulang kembali bagian2 dari kehidupan masa lalunya. Saya sendiri tidak tahu, apabila diberi kesempatan semacam itu apakah akan saya ambil atau tidak. Karena satu hal yang mesti disadari, apapun pilihan yang kita ambil dalam hidup selalu ada konsekuensi yang musti ditanggung, bahkan seandainya hal tersebut bukanlah hal yang kita inginkan.

Saya jadi teringat akan ayat2 Allah dalam Al-Quran yang mengatakan bahwa amalan manusia walaupun sekecil biji zahra tetap akan mendapat balasan yang setimpal di akhirat kelak. Hal ini sejalan dengan teori butterfly effect, bahwa amal sekecil apapun, kalau itu berupa kebaikan insyaAllah akan membawa kebaikan bahkan mungkin pengaruhnya akan menjadi sedemikian besarnya di luar perhitungan kita. Demikian sebaliknya.

Oleh karenanya, mumpung bulan puasa, patut jadi bahan renungan buat kita untuk tidak menyia-nyiakan hidup. Karena mungkin tidak pernah terpikir, bahwa amal yang kita lakukan akan membawa pengaruh seperti apa dalam kehidupan kita ataupun kehidupan orang lain. Dan langkah kecil yang kita ambil saat ini, akan membawa kita kemana kelak. Semuanya itu perlu kita niatkan yang lurus, yaitu untuk mencari ridho Allah. InsyaAllah, kitapun akan memperoleh kebaikan pula.

October 10, 2006 Posted by taufan | Motivation | | 1 Comment

Puasa Kudu Sabar

Puasa tahun ini benar2 berkesan bagi saya. Pertama, ini bener2 pertama kalinya saya menjalankan ibadah puasa bersama istri. Kalo dulu buka puasa disiapkan oleh ibu, kini sudah ada istri yang setia menyiapkan masakan buat berbuka (thanks honey). Apalagi masakannya sedap, alamak.. puasa ngga tambah kurus, tetep aja perut ini maju kedepan :)

Yang kedua, kerjaan ternyata bertambah banyak. Bahkan ngga kelar sampe jam pulang normal. Sebenarnya uda ada aturannya sih, kalo pas puasa gini, jam kerja dikurangin 30 menit. Tapi tetep aja, yang namanya kerjaan, berhubung belum kelar, musti diselesaikan dulu baru bisa pulang. Sedihnya, awal2 puasa ngga bisa buka bareng ama istri, karena baru sampe rumah jam 7-an. It’s ok lah.. uda konsekuensinya emang.

Ngomongin kerjaan emang ga ada abisnya. Uda kerjaan numpuk, ada aja hal2 yang terlewatkan. Kelihatannya sih sepele. Padahal.. setelah nyadar itu kerjaan salah, musti diperbaikin sampe makan waktu 3 hari.. $#^$%(@#$$#%*

Datang lagi cobaan ketiga. Something that I’ve been dreaming about occured. Well, it’s still not realy through, in fact I’m still in the middle of making it come true. Tapi mau ga mau pikiran ini jadi kebagi dua, jadi ga konsen ama kerjaan sekarang. Mungkin ini penyebab kesalahan2 dalam pekerjaan saya tadi. Karena ngga konsen, jadi terlewatkan hal yang kelihatannya sepele itu.

Tiap saat saya berdoa, semoga diberikan kekuatan dalam menjalankan puasa. Dan semoga saya tetep bisa fokus dg kerjaan saya, biar cepat kelar ngga salah2 lagi. Bagaimanapun, saya ngga bisa nggantungin ama hal yg belum terjadi. Biarpun uda nampak di depan mata, tapi kan masi belum di genggaman tangan. Yah.. puasa itu memang kudu sabar, ya toh.

September 28, 2006 Posted by taufan | My Life | , | 3 Comments

Hilangkan Segala Kekhawatiran

“Worry is like a rocking chair. It gives you something to do but doesn’t get you anywhere”.

Kekhawatiran itu seperti kursi goyang. Dia memberi kita kesibukan, tapi tidak membawa kita ke mana-mana!

Kekhawatiran seringkali dimiliki oleh banyak orang, seperti takut bisnisnya gagal, takut ditipu orang, takut merugi, takut tidak mendapat jodoh dan banyak ketakutan lainnya.

Memiliki kekhawatiran, bukan berarti itu tidak boleh sama sekali. Namun, hendaknya seseorang mampu memberikan *porsi yang tepat* untuk hal ini. Harus dibedakan antara sikap hati-hati dan sikap takut. Sebab sikap takut tidak akan pernah menghasilkan apapun.

Bertahun-tahun kita khawatir, maka selama itu pula hasil yang kita harapkan menjadi jauh, bahkan seringkali tidak terwujud sama sekali.

“Apa yang kita pikirkan itu yang sedang terjadi, atau akan terjadi”.

Kekhawatiran hanya akan membuahkan sikap pasif, kaku, tidak bisa berkata apa-apa, bingung dan tidak bisa melakukan tindakan apapun!

Dengan kata lain, kekhawatiran hanya ‘membunuh’ kita, seperti kreativitas kita, tindakan-tindakan kita, dan bisa membuat kita menjadi seorang yang apatis. Dan ini berbahaya.

Perasaan *Khawatir* : Hanya ada dua kata untuk yang satu ini: HENTIKAN dan LUPAKAN!

Terlalu banyak orang yang tidak menghasilkan apa-apa akibat buah ketakutan yang berlebihan. Padahal, kalau mau kita menganalisa, tidak ada satu hal pun yang tanpa resiko dalam hidup ini. Bahkan, diamnya kita pun mempunyai resiko tersendiri.

Jika merasa khawatir, cobalah untuk memikirkan *solusi* terbaik yang dapat membantu menghilangkan kekhawatiran.

Ini jauh lebih baik daripada sekedar duduk di ‘rocking chair’ (kursi goyang) dan terus menggoyang-goyangkan kursi tanpa arah dan tujuan.

Lakukan sekuat tenaga untuk mengurangi kekhawatiran kita dengan mencoba untuk selalu berfikir dan melakukan hal yg positif.

Dengan demikian.. maka setiap hari, setiap saat, dan setiap tindakan kita akan menjadi lebih tenang dan nyaman! DAN pada saat kita merasa nyaman, tidak menutup kemungkinan akan semakin banyak ‘karya’ yang bisa kita hasilkan!

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

September 8, 2006 Posted by taufan | Motivation | | No Comments Yet

Jangan Putus Asa

Sebuah perjalanan hidup seseorang, yang ingin saya muat di sini, untuk memotivasi pribadi agar tidak pernah menyerah.

*********************

Pengalaman pribadi saya yang sangat sederhana dan kecil mungkin sedikit berguna bagi rekan-rekan. Kehidupan miskin dari seorang janda beranak 6, yang ditinggal pergi oleh suami tercinta (meninggal), harus membesarkan 6 orang anak dengan usia tertua 10 tahun dan bontot 10 bulan. Dalam kehidupan keluarga, saya sebagai anak bontot tidak dan belum pernah mengerti kasih sayang seorang ayah. Ibu yang menjadi Orang Tua Tunggal menjadi tumpuan harapan dalam mencari sesuap nasi dan biaya pendidikan ke-6 anaknya.

Dalam masa remaja ku, aku sangat merasakan betapa pahitnya hidup, betapa sulitnya untuk mengangkat wajah bertatapan dengan orang lain, betapa rendahnya status sosial keluarga ku bahkan dimasa kanak-kanak ku aku tidak pernah memiliki mainan yang dimiliki oleh teman dan tetangga ku sehingga sering aku dan saudaraku harus berinisiatif menciptakan sediri mainan dari bahan kayu dan papan sisa pertukangan orang. Demi memenuhi semua kebutuhan, ibu ku harus berjuang mengolah sawa dgn cara bayar sewa, setiap hari sabtu (pekan / pasar besar) Ibu ku berdagang ikan asin, untuk menambah uang pensiun (PORLI dgn pangkat AIPTU) sebagai satu-satunya harta warisan yang ditinggal ayah ku, sampai pada saat aku kelas 2 SMP, ibu ku sudah bisa membeli 2 petak sawah dan rumah gubuk keci juga sudah kami miliki pada saat aku berusia 1,5 tahun.

Saat kelas 1 SMA, ibu ku terpeleset dan jatuh ke jurang ketika hendak kembali dari sawah, pergelangan tangganya patah dan tidak berfungsi lagi untuk mengangkat beban berat, bahkan untuk mengangkat 1/2 kg pun sudah tidak mampu. Jadilah aku dan Kakak perempuanku sebagai pengganti ibu berjualan di pasar setiap hari sabtu. Selama 1 tahun kegiatan itu kami tekuni, namun kenyataan semakin pahit. Semua pelanggan ibu ku lambat-laun pindah ke pedagang lain tanpa kami tau apa penyebabnya. Terus terang, kami sangat menghargai kejujuran, ibu mendidik kami di rumah dgn penuh disiplin. Dalam berdagang , ibu selalu bilang..”jangan sekali-kali mengurangi timbangan dan bahkan kalau diminta, tambahkan 1 ekor ikan untuk pelanggan, karena dgn menambahkan 1 ekor kita tidak akan rugi. Namun seperti yang saya katakan, kenyataan dan harapan baik ternyata tidak berpihak kepada kami.

Setelah 1 tahun, kami melakukan evaluasi, tidak mungkin meneruskan kegiatan ini lagi, karena kami sudah sering dimarahi oleh Toke (Supliyer Ikan Asin) karena setiap hari pasar, barang yang kembali sampai 70 %. Dengan sangat berat hati, kami terpaksa berhenti berdagang dan saat itu saya duduk di kelas 2 SMA. Putuslah sudah harapan untuk melanjutkan pendidikan.

Dalam keadaan seperti itu, ibuku selalu bilang, “Kamu harus sekolah terus…jangan sampai kamu mundur..gaji pensiun kita masih cukup untuk bayar sekolah dan untuk makan kita masih punya hasil dari sawah, asalkan berhemat kita pasti cukup untuk setiap tahun..” Demikian selalu ibu ku berkata. Sementara Abang dan kakak ku sudah bekerja walaupun penghasilan mereka hanya cukup untuk mereka sendiri, dan akhirnya kau memang bisa meneruskan pendidikan ku sampai LULUS SMA tahun 1983.

Setelah Lulus, aku berfikir..”harus kemana..???” lalu dengan bantuan Abang tertua, aku dibiayai untuk mengikuti test SIPENMARU di salah satu Universitas di Ibu Kota Propinsi dan untuk sementara waktu aku menumpang di rumah saudara ibu ku. Sebagai bekal, ibu membekali aku dengan beras dan uang untuk beli lauk untuk kebutuhan selama 10 hari. Dengan semangat yang sangat tinggi , aku mengikuti test dan dengan suatu komitmen.. “Apa bila lulus..saya harus membiayai kuliah sendiri dengan bekerja diluar jam kuliah”. Namun…kembali aku harus menelan PIL PAHIT, karena ketika pengumuman, nama ku tidak tercantum dalam daftar yang diterima dan akhirnya aku kembali ke kampung halaman ku.

Hari demi hari, minggu bulan dan tahun kulalui dengan harapan yang penuh tanda tanya..”harus kemanakah aku..?” Semua pekerjaan ku geluti, mulai dari tukang (buruh bangunan), pengspalan jalan, kondektur bis, kernet truk, montir bengkel mobil, bahkan pernah sebagai pengayuh becak . Semua ini ku lakukan karena dengan tekad dan harapan ” saya tidak akan pernah kalah, apalagi harus sampai mengemis. Saya harus bercermin kepada pengalaman Ibu saya yang membesarkan dan mampu menyekolahkan kami sampai bisa mengecap pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah.

Dalam perjalanan hidup saya sebagai gembel pasaran, saya tetap mangirimkan lamaran pekerjaan. Namun ada yang aneh dalam pengharapan saya..saya ingin sekali menjadi seorang PENGANTAR SURAT , entah apa enaknya dan entah apa penyebabnya. Dua kali saya melamar di Instansi tersebut..2 kali juga saya harus menelan PIL PAHIT. tapi apakah perjuangan saya sampai di sini..?? “tidak..!!!”, saya tetap mengirimkan lamaran saya ke Instansi tersebut, sampai akhirnya suatu saat saya mendapatkan penggilan ke 3 untuk seleksi penerimaan dan Hasilnya…”PUJI TUHAN” harapan ku terkabulkan..angan-angan ku tercapai…bahkan lebih dari yang aku harapkan…yang tadinya aku ingin sebagai sekedar pengantar surat…tetapi yang kudapatkan menjadi Seorang Karyawan Kelas Menengah sebagai Petugas Pos Keliling Desa di salah satu kecamatan walaupun dalam masa 1 tahun aku harus menjadi tenaga lepas harian dengan gaji (ketika itu) Rp1.200 / hari, padahal pekerjaan terakhirku menjadi kondektur bis sudah Rp2.500 / hari net..makan dan rokok gratis..heheheh…) belum lagi aku harus membayar biaya sewa kamar di tempat kerja ku.

Hari demi hari pekerjaan ku kujalani dengan penuh ketekunan dan bahkan tidak jarang aku harus keluar masuk dusun di tengah kebun kopi untuk menjemput surat atau kiriman lainnya dan bahkan hal ini sering kulakukan diluar jam dinas kerja, karena mengingat apabila kulakukan pada jam kerja, tidak akan mungkin cukup waktu jam dinas ku, karena aku harus kembali ke kantor pada jam yang sudah ditentukan, agar semua pekerjaan dan kiriman yang ku ambil dari desa bisa berangkat hari itu juga ke Kantor Cabang di kabupaten. Demikianlah kulakukan pekerjaan itu dengan senang hati dan bangga selama +/- 4 tahun.

Dalam perjalanan 4 tahun, walaupun semua kujalani dengan senang hati, namun lama kelamaan aku mulai merasa berat, karena harus naik sepeda motor sejauh 78 km / hari, melayani 14 desa, 4 SMU, 8 SMP dan puluha SD dan bahkan 3 kali dalam seminggu harus melayani 2 kecamatan karena ada pemekaran kecamatan dan disana belum ada pelayanan instansi ku . Dengan melalui jalan setapak, kadang jalanan berbatu cadas..bahkan kadang dengan lumpur hampir se dengkul..(kalau di musim penghujan) semua kujalani dan memang harus ku jalani. Dalam perjalanan karir selama 4 tahun, aku mencoba berdiskusi dengan para senior dan pimpinan, bagaimana cara peningkatan karir. Mereka semua sangat baik hati dan membangun motivasi dalam diri ku. Sampai suatu saat, tiba waktunya dan memenuhi syarat yang ditetapkan oleh perusahaan, aku mengikuti seleksi untuk menjalani Pendidikan dan Pelatihan Internal. Didasari pengalaman dan banyaknya kegagalan serta beratnya penderitaan dalam perjalanan hidup, aku berusaha dengan segala upaya. Buku-buku di perpustakaan kantor kupinjam dari pimpinan dan ku bawa ke rumah, hampir semua buku dan nyaris perpustakaan kantor pindah ke kamar kost ku. Akhirnya atas Berkat Rakhmat dan Perkenan Tuhan…., aku dinyatakan LULUS test di Wilayah Propinsi dan selanjutnya mengikuti test Pusat di P. Jawa. Doa Pengahrapan dan Perjuangan ku , oleh Tuhan dibukakan jalan dan aku LULUS dan berhak mengikuti pendidikan penjenjangan (non gelar) selama 1 ,5 tahun.

Hari-hari berikutnya setelah LULUS dari pendidikan , pekerjaan kujalani dengan lancar hingga 2,5 tahun kemudian aku kembali Diberikan Tuhan Jalan untuk mengikuti Pendidikan Jenjang Diploma di pendidikan internal. Singkat cerita…, saat ini saya menjadi seorang Supervisor di salah satu Unit Pelaksana Tekhnis di daerah Jakarta setelah mengalami mutasi dari beberapa kota.

Hasil yang kuraih saat ini adalah Pemberian Tuhan , karena Ia melihat perjuangan dan mendengar Doa dan Pengharapan ku. lalu apakah aku Puas…??? tidak…tapi aku Cukup Bangga dengan hasil ku saat ini, dari seorang Gembel Terminal dan Tukang Kayuh Becak, kini menjadi Seorang Karyawan Tetap BUMN.

Pesan saya kepada rekan-rekan…Jangan Menyerah terhadap Tantangan Hidup dan Kondisi Lingkungan. Tataplah ke depan karena SEJAUH MATA MEMANDANG, SELUAS ITU PULA HARAPAN TERBENTANG UNTUK DIRAIH, dan jangn Lupa, SERTAKAN TUHAN DALAM SEGALA RENCANA HIDUP MU, KARENA DIA YANG BERKENAN UNTUK MERANCANGKAN YANG BAIK DALAM HIDUPMU.

September 7, 2006 Posted by taufan | Motivation | , | 10 Comments