Kick Andy keluar dari Metro TV?
Berita ini mungkin agak terlambat saya dengar. Terus terang saya adalah salah satu penggemar Kick Andy. Bagi saya, acara tersebut merupakan sumber inspirasi, sumber penggerak dan pemberi nafas dalam hidup. Selalu ada hal2 yang bisa menunjukkan, betapa pentingnya untuk bersyukur, betapa sempitnya pikiran saya untuk menghakimi diri sendiri dengan segala kondisinya: baik ataupun buruk.
Dan seperti yang dikatakan Andy, dunia ini memang tidak sesempit apa yg dibayangkan. Karirnya di Metro TV yang begitu ‘mantap’, tidak cukup menahan hasrat dalam hatinya. Keinginan untuk terus mengembangkan diri, dan meninggalkan ‘zona nyaman’.
Terlepas dari fakta sebenarnya, dibalik keluarnya Andy, saya lebih tertarik dengan pemikiran kita tentang zona nyaman (comfort-zone).
Menangkap Peluang Bisnis di Pegadaian
Pegadaian, siapa yang tidak kenal tempat satu ini.. terutama kalo kita lagi BU (butuh uang
) Selama ini mungkin, kita hanya tahu bahwa kita bisa menggadaikan barang di pegadaian, demi mendapat pinjaman duit. Apakah pernah terpikir bahwa dibalik sibuknya aktivitas gadai-menggadai barang, ada sebuah peluang untuk berbisnis? Saya ingin berbagi cerita, dari salah seorang kenalan yang berusaha ’menangkap’ peluang bisnis tersebut.
Sebelumnya, sedikit uraian tentang sistem kerja pegadaian. Yang perlu diperhatikan bahwa, antara pegadaian satu dengan lainnya ternyata memiliki sistem yang (sedikit) berbeda.
Pada saat kita menggadaikan barang, ada petugas yang akan melakukan taksiran atas barang tersebut. Namanya juga taksiran.. bisa dibilang tidak ada standar baku mengenai harga yg diberikan. Seperti yg diceritakan kenalan saya, biasanya apa yang ’kelihatan mata’ itulah yang menjadi patokan. Misalnya: kalo barang elektronik, maka merk berpengaruh besar. Terutama merk2 terkenal seperti Sony, Phillip, LG, Toshiba dll. Sementara merk2 yang lain, terutama produk2 dari Cina bisa dihargai murah (banget) malah bisa2 ditolak oleh pegadaiannya. Untuk meningkatkan harga barang, kardus juga berpengaruh loh – jadi jangan lupa dibawa yah
Ijazah Palsu — jalan pintas kekuasaan
Saat ini marak sekali berita di berbagai media, tentang beredarnya ijazah (pendidikan) yang dipalsu. Beberapa pejabat di tengarai memperoleh ijazah palsu, sebagai upaya untuk pemenuhan syarat pendidikan. Saya sendiri belum tahu persis, berapa level minimal pendidikan buat seseorang yang akan menjadi pejabat; entah itu bupati, gubernur, walikota, bahkan sampai anggota DPR / MPR.
Pertanyaan2 yang kontradiktif adalah: perlu atau tidak, pejabat negara kita memperoleh gelar pendidikan tertentu (misal: D3, S1 atau S2)? Apakah ada korelasi antara gelar pendidikan yang diperolehnya dengan tugas yang dijalankannya? Apakah kualitas2 pribadi seperti leadership, integritas, kejujuran, nasionalisme, amanat, dan lain sebagainya.. masih belum cukup sebagai syarat seorang pemimpin?
ATM ..oh.. ATM
Baru kali ini aku pengen nulis hal teknis tentang kerjaanku. I know that I am bound into the rules, stated that I will never disclose anything within company confidentialities. Yah, the rules — mungkin teman2 pernah dengar istilah NDA (Non-disclosure agreement).
Tapi aku lagi pusiiinnggg.. dan kemana lagi aku bisa curhat, kalo ngga ke blog kesayangan ini. Mudah2an, muntahan uneg2ku ini tidak melanggar pasal2 dalam NDA. Kalo ngga aku bisa ‘digantung’, ntar
It’s all about ATM. Eits, jangan salah; ini bukan Automated Teller Machine lho, yang juga bisa bikin pusing, kalo pas aku butuh transaksi, ternyata ATM-nya error
Rich Dad, Poor Dad
Ada apa dengan Robert T. Kiyosaki? Kenapa dia bisa begitu fenomenal dengan teori2 yg ditulis dalam bukunya Rich Dad, Poor Dad?
Bisa saya katakan, bahwa teori Robert telah membuka mata saya. Mata orang lain mungkin juga, yang telah membaca buku ini. Seakan saya baru tersadar bahwa sebenarnya ada pilihan hidup, selain apa yang telah dijalani dan dipercaya oleh sebagian besar dari kita.
Bagi yang mungkin belum membaca bukunya; inti dari teori Robert adalah: kalau mau kaya, jangan hanya mengandalkan pemasukan aktif — carilah pemasukan pasif sebanyak2nya.
Which fish-in-a-pond are you? (Part 2)
It’s been a thought in my mind about the options that lie in front of me, regarding career changes. Should I stay in the same company I’ve been working for (say company A) — OR — should I move to another (say company B). These 2 options, reminds me with the article “Which fish-in-a-pond are you?” I have written before.
To describe my condition in company A: I simply feel stuck in my place. This company A is one of major player in telecommunication industry. Being in a big ‘pond’ (company) means you have so many competitors, struggling for the same object, e.g: getting a higher position in the company. And I have to admit, that they are the best people coming from the best places (background: university or previous company). It’s not like I hate to compete with other fishes in this pond, it’s just that I think it is important for me to narrow-down the competition, so that will increase my opportunity.
Which fish-in-a-pond are you?
If you were a fish, which one you prefer of: being a big fish in a small-pond or a small-fish in a big pond?
Today (May-20, 2008) I read some article in karir.com, that talks about how you chose your career path. The writer trying to get the analogy of a fish-in-a-pond.
As, I tried to reflect my career, I realized that I’ve been changing my object of pursue. To tell you the truth, I’ve never been a big fish either in small or big pond
Being in a small company, means getting lack of ‘facilities’. I was talking about tools for working, e.g a laptop, etc. Also the benefits: medical, transport & accomodation. Sometimes the company can’t afford to provide its employees with those ‘facilities’.
The contrary is what I get from the company I’m currently working for. I get so many ‘facilities’ that ensure me not to worry about the things beside my job. Yet, being in big pond, means I have to compete with other ‘fishes’. And sometimes the competition gets unwell, enough to get me wounded psychologically.
So, which fish-in-a-pond are you?

